Neonatus Bayi dan Balita
Selasa, 09 Agustus 2016
Pieces of a Long Journey: Tumbuh Kembang Anak-Remaja dalam Kedokteran dan Pe...
Pieces of a Long Journey: Tumbuh Kembang Anak-Remaja dalam Kedokteran dan Pe...: Menjadi orang tua adalah kebahagiaan dan kebanggaan. Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah dan karunia yang hanya diberikan pad...
Jumat, 15 April 2016
Arti Sebuah Jodoh
Kalau membahas masalah JODOH ini ceritanya membuat kita penasaran untuk membahasnya. Karena Cita-cita manusia hidup di dunia adalah menjemput keRidhoan - Nya bersama dengan jodoh terindah kita. Jodoh merupakan TAKDIR , yang mana sudah menjadi ketentuan Allah sejak zaman azali untuk manusia dalam kitab lauhul mahfudz Nya.Yang mana sudah ALLOH siapkan dan akan kita jumpai pada saat waktu yang tepat. Tepat pada saat diri kita sudah pantas bersanding dengan nya, tepat pada waktu yang menjadi Takdir kita.
Tidak ada yang bisa berlari dan menolak dari pada TakdirNya, hanya kita bisa berusaha untuk mendapatkannya dengan jalan yang tepat dan sesuai dengan syariatNya.
Ketetapan ALLOH itu jelas, seperti pada kutipan Ayat Al Qur'an yang selalu kita lihat saat mendapatkan undangan pernikahan
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram bersamanya, dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kekuasananNya) bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Ruum:30).
Disini jelas bahwa tujuan pernikahan adalah saling menentramkan satu sama lainnya. Saling mengingatkan jika bersalah karena bisa jadi ini menjadi amalan buat kita, saling memahami jika ada perbedaan karena kita diciptakan dengan kharakteristik suku, bangsa dan kebiasaan masing-masing. Dan saling menerima kelemahan karena kita bukan makhluk sempurna, dan saling menerima kelebihan supaya kita bisa saling belajar.
Maka oleh karena itu dalam memilih pasangan tidaklah seperti yang sering orang-orang bilang " membeli kucing dalam karung" tentunya kita harus mengetahui bagaiman akhlaknya atau agamanya, keturunannya, klau orang jawa bilang bebet, bobot, bibit...tetapi disini bukan berarti kalau kita suku jawa harus menikah dengan suku jawa atau sebaliknya. Yang terpenting adalah kita punya VISI MISI yang sama dalam pernikahan dan kembali lagi seperti tulisan saya di atas...saling mengingatkan, memahami, menerima.
"Seorang perempuan biasanya dinikahi karena empat perkara: Harta, nasab (keturunan), kecantikan dan agamanya. Maka utamakan memilih perempuan karena agamanya, kamu akan merugi bila tidak memilihnya." (HR Bukhari)
Memang tidak ada calon yg sangat sempurna untuk kriteria di atas, mengingat bahwa kita sebagai seorang laki-laki pun tidak ada yg sempurna di mata perempuan. Menurut ustadz cinta Restu Sugiarto, kriteria minimal yg perlu kita perhatikan saat memilih calon jodoh kita adalah bahwa dia harus memiliki 3M. Yg dimaksud 3M tsb adalah; Memaklumi, Memaafkan, dan Memotivasi. Jika hal-hal ini sudah terpenuhi, insyaAllah kehidupan rumah tangga akan langgeng.
Sudah pantaskan diri saya untuk bisa bersanding dengan padangan kita. Kita sendiri yang tahu..kita bisa mengukur diri kita sendiri. Jika kita menginginkan JODOH yang terbaik maka kita harus memperbaiki diri kita. Jika sekarang kita baru berpisah dengan pasangan kita, Yakinlah ALLOH pasti punya rencana yang lebih indah dari yang kita rencanakan. Akan ada hikmah yang saat ini kita tidak tahu ...tetapi ALLOH lebih mengetahuinya karena ALLOH maha Tahu dan Maha Baik. Tidak mungkin ALLOH memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya dan menganiaya Hamba-hambaNya yang beriman kepada NYA. Berat..rasanya memang berat...sakit rasanya memang sakit ...ingin sepertinya segera terbangun dari mimpi buruk ( eh ..eh ..kenapa jadi panjang ni cerite..he...)
Fokus ke bahasan kita .."PERNIKAHAN itu sebuah perjuangan kebahagian, ia tidak pernah sempurna tanpa adanya cinta. Dan cinta tidak pernah datang dengan cara mudah turun dari langit. Semuanya harus kita perjuangkan. Seringkali cinta itu baru mekar setelah kita melewati berbagai macam derita. Hingga kita harus tersadar bahwa derita bukanlah musuhnya cinta, tapi derita itu sedang membuat cinta menjadi lebih dewasa"
Do'a kita bersama " Untuk yang sudah mendapatkan JODOH semoga pasangan kalian merupakan pasangan yang bisa menjadi teman perjuangan untuk keRidhoaaNya..AMIN.... Bagi yang belum mempunyai pasangan para pejomblo jangan khawatir ALLOH pasti punya rencana tersendiri yang terbaik buat kita ...(termasuk saya sendiri ..he....) dan semoga segera dipertemukan ...AMIN....karena jodoh itu sudah pasti adanya, kalau tidak dipertemukan di dunia, insha Alloh akan dipertemukan di Akhirat ..AMIN..
Sabtu, 02 Januari 2016
ARTI SEBUAH MAHAR
Syukur Alhamdulillah semoga kita semua termasuk dalam hambaNya yang selalu bisa memaknai setiap nikmat dalam hidup ini. Saat seseorang menanyakan kepadamu tentang" Mahar apa yang kamu inginkan ? " sepintas otomatis dibenak kita itu pernyataan seorang laku-laki yang akan meminang seorang perempuan. ALHAMDULILLAH ....bisa disegerakan untuk bisa memenuhi menyempurnakan sunnah Nya. Semoga diberikan umur panjang dan jodoh sampai nantinya dipertemukan untuk menjadi pasangan yang HALAL bagi pasangan kita. AMIN...
Apa itu mahar ? Secara singkat, mahar atau mas kawin adalah sejumlah harta yang diberikan oleh (calon) pengantin pria kepada (calon) pengantin wanita pada saat pernikahan. Mahar menjadi hak milik seorang isteri dan tidak boleh siapapun mengambilnya, entah ayahnya atau pihak lainnya, kecuali bila isteri ridha memberikan mahar tersebut kepada siapa yang memintanya.
Mari kita rujuk beberapa referensi berikut mengenai mahar.
– ”Sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya.” (HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad)
– “Tiada sah pernikahan kecuali dengan (hadirnya) wali dan dua orang saksi dan dengan mahar (mas kawin) sedikit maupun banyak.” (HR. Ath-Thabrani)
– Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” ‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.” (HR. Ahmad)
– “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa(4):24)
Dari referensi2 di atas, tidak ada rujukan resmi mengenai apa atau berapa besar mahar yg mesti disiapkan. Bahkan Rasululloh SAW mengijinkan sahabatnya, yg kekurangan materi, untuk menggunakan hafalan Al Quran sebagai mahar, sebagaimana referensi berikut:
Hadits riwayat Sahal bin Sa`ad Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
“Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memandang perempuan itu dan menaikkan pandangan serta menurunkannya kemudian beliau mengangguk-anggukkan kepala. Melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak memutuskan apa-apa terhadapnya, perempuan itu lalu duduk.
Sesaat kemudian seorang sahabat beliau berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau tidak berkenan padanya, maka kawinkanlah aku dengannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apakah kamu memiliki sesuatu? Sahabat itu menjawab: Demi Allah, tidak wahai Rasulullah! Beliau berkata: Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan sesuatu? Maka pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata: Demi Allah aku tidak mendapatkan sesuatu! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Cari lagi walaupun hanya sebuah cincin besi! Lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya berkata: Demi Allah tidak ada wahai Rasulullah, walaupun sebuah cincin dari besi kecuali kain sarung milikku ini!
Sahal berkata: Dia tidak mempunyai rida` (kain yang menutupi badan bagian atas). Berarti wanita tadi hanya akan mendapatkan setengah dari kain sarungnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kain sarung milikmu ini? Jika kamu memakainya, maka wanita itu tidak memakai apa-apa. Demikian pula jika wanita itu memakainya, maka kamu tidak akan memakai apa-apa. Lelaki itu lalu duduk agak lama dan berdiri lagi sehingga terlihatlah oleh Rasulullah ia akan berpaling pergi.
Rasulullah memerintahkan untuk dipanggil, lalu ketika ia datang beliau bertanya: Apakah kamu bisa membaca Alquran? Sahabat itu menjawab: Saya bisa membaca surat ini dan surat ini sambil menyebutkannya satu-persatu. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu menghafalnya? Sahabat itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Pergilah, wanita itu telah menjadi istrimu dengan mahar mengajarkan surat Alquran yang kamu hafal.”
(Shahih Muslim no:1425)
Bahkan, dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa mahar pernikahan Ummu Sulaim adalah suaminya masuk Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)

